Renungan di Malam 27 Rajab: Antara Doa & Derita

July 29th, 2008 by febri-msy

Sungguh
kesibukan perkuliahan dalam minggu ini cukup melelahkan, tentu bukan aku saja
yang sibuk orang lain pun sibuk dengan aktifitas kehidupannya yang tak
berujung. Ya itulah hidup disadari atau tidak bahwa manusia selalu sibuk dalam
urusan dunianya. Sedikit sekali manusia sibuk dalam urusan masa depannya
(akhirat), kesehariannya selalu diisi dengan berbagai kegiatan kedunian yang
belum tentu membuahkan kebahagiaan yang hakiki. Manusia terjerat dengan
kebahagiaan semu dikira dunia ini adalah segala-galanya ternyata bukan, dunia
hanya seperti sayap nyamuk dalam semesta kehidupan. Shalat Sunat dua rakaat
fajar jauh lebih baik dari dunia dan seisinya, begitulah kata Hadits Rasulullah.

Perkuliahan
pada 26 Rajab cukup melelahkan, dimulai pukul 07.15 pagi berakhir pada pukul
16.00 sore, siangnya istirahat sebentar hanya untuk Shalat Zuhur dan makan
siang. Sepulangnya dari kuliah, sungguh lelah rasanya ditambah lagi kegiatan
malam sebelumnya mengerjakan tugas perkuliahan yang baru selesai pukul 03.00
dinihari. Setelah Shalat Ashar aku pun tertidur pulas, terbangun setelah jam
dinding menunjukkan pukul 18.15 jelang malam, aku terbangun dan langsung
mengerjakan Shalat Magrib. Setelah Magrib tubuh ini masih terasa lelah, tetapi
sedikit sudah terasa pulih dari kelelahan, kemudian aku lanjutkan tidur kembali
sampai terbangun pukul 21.00 Wib. Langsung aku ambil handphone, tergerak hatiku
untuk menghubungi seorang sahabat lama ketika kuliah di salah satu Universitas
Negeri di daerah Tapal Kuda. Setelah sekian lama berbicara,tidak terasa jam
dinding sudah menunjukkan pukul 01.00 Wib, sungguh pembicaraan yang lama via
telepon durasi lebih kurang 4 jam. Diakhir pembicaraan aku dan dia tersentak
bahwa malam ini adalah malam 27 Rajab 1429 H bertepatan dengan 30 Juli 2008,
dimana 14 abad yang silam Rasulullah Muhammad saw. mengalami peristiwa
spiritual yang maha dahsyat yang dikenal dengan Isra’ dan Mi’raj. Banyak hal
yang aku bicarakan dengan sahabat tersebut sebagaimana yang akan aku uraikan
pada bagian berikut, lebih tepat aku beri tema pembicaraanku dengannya
“renungan dimalam 27 Rajab”.

Waktu
terus bergulir tanpa mengenal lelah, seperti hujan yang turun di pegunungan
terus melimpas sebagian ada yang masuk kedalam tanah menjadi ground water,
sebagian terjerap oleh lapisan tanah, dan sebagian lagi mengalir sebagai
runoff, dan ada juga yang menguap kembali ke atmosfir. Ya waktu tak ubahnya
seperti air ia terus mengalir ketempat yang lebih rendah dan berakhir dilaut. Bebatuan
terjal, tajam, dan liku-liku sungai akan diikutinya dan akhirnya juga sampai
pada tujuan terakhir yaitu laut dan samudra yang luas. Seperti itu juga
kehidupan pahit, getir dan manisnya hidup terus dilalui sekalipun manusia
sendiri tidak menginginkan pahit dan getirnya kehidupan, yang diinginkan hanya
manisnya saja. Namun lika-liku hidup mengikuti hukum alam: pahit, getir, dan
manis mesti dilalui tergantung bagaimana menyikapinya. Semakin banyak
kepahitan, kegoncangan, kesusahan, dan penderitaan hidup semakin dewasa
seseorang dalam menjalani kehidupan ini.

Pembicaraanku
dengan sahabatku ini dimulai dengan membahas pertanyaan Bung Hatta kepada Buya
Hamka tentang seseorang yang akan masuh sorga. Bung Hatta menanyakan pada Buya
Hamka tentang doa-doa yang memberikan banyak pengharapan kepada yang membaca,
demikian juga dengan membaca ayat-ayat Al Quran. Dengan membaca ayat kursi
sebelum tidur, kalau meninggal sesudah membaca ayat itu, akan masuk sorga
dengan tidak dihisab lagi.
Kalau
baca doa ini doa itu, sekian kali pagi dan sekian kali petang, dosa kita akan
diampuni. Kata beliau lagi bahwa beliau banyak membaca uraian-uraian demikian,
sehingga mendapat kesan bahwa dengan membaca ayat anu, surat anu dan doa anu,
orang sudah terjamin masuk sorga. Almarhum Bung Hatta meminta pendapat almarhum
Buya Hamka mengenai soal-soal seperti ini. Bung Hatta ragu, bahwa hanya dengan
bacaan doa-doa saja orang dengan mudah masuk surge.

Kemudian
Buya Hamka menjawab pertanyaan Bung Hatta, bahwa dalam Al Quran disebutkan:

Apakah kamu menyangka bahwa kamu akan masuk
ke sorga, padahal belum datang kepada kamu serupa dengan yang datang kepada
orang yang sebelum kamu; mereka ditimpa oleh kesusahan dan penderitaan dan
diguncangkan, sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang beriman yang ada
bersama beliau: “bilakah akan datang pertolongan Allah?” Ketahuilah
sesungguhnya pertolongan Allah itu sudah dekat!”
(Al Baqarah: 214).

Ayat
ini telah memberikan pedoman kepada kita bahwasanya untuk mencapai sorga,
tempat yang amat bahagia dan mulia itu, hendaklah kita berani menerima
kesusahan dan penderitaan, bahkan berani diguncangkan, digempakan, sehingga
tidak ada waktu buat bersenang diam. Dalam ayat ini juga dikatakan bahwa saking
hebatnya kesusahan dan penderitaan, bahkan keguncangan, sampai orang yang
beriman bertanya bahkan Rasul sendiri, kapan pertolongan Allah akan datang? Mengapa
tidak datang juga pertolongan itu?

Yang
bertanya demikian adalah Rasul sendiri dan orang-orang yang beriman yang
mengikuti beliau.
Rasul
bertanya, juga orang-orang beriman, bilakah pertolongan akan datang? Seakan-akan
mereka tidak yakin. Marilah kita lihat kehidupan rasul-rasul dan nabi-nabi itu
sendiri. Mereka menjadi pemimpin dari kamum mereka sendiri. Maka bertemulah
kita dengan kesusahan dan penderitaan Rasul-Rasul, pemimpin itu, yaitu
keguncangan yang bisa saja membuat hancur orang yang tidak kuat jiwanya. Seperti
Nabi Nuh, baik dalam Al Quran atau dalam Bibel menyatakan umur beliau sangat
panjang, yaitu 950 tahun. Siang malam, petang pagi dihabiskan untuk kepentingan
umat, tidak berhenti-hentinya beliau melakukan dakwah, namun hasil kerja keras
Sembilan abad, hanya dapat membawa sepasang-sepasang binatang dan beberapa
orang dan seorang anaknya tidak mau diajak ayahnya Nabi Nuh sendiri naik ke kapal.
Maka tenggelamlah anak kandungnya bersama orang-orang yang tenggelam.

Demikian
juga nabi Ibrahim, dengan terang-terangan Tuhan menjelaskan perjuangan hidup
nabi Ibrahim “dan ingatlah seketika diuji
Ibrahim itu dengan berbagai cara maka disempurnakannya semua itu
” (Al
Baqarah: 124). Berbagai cara ujian yang didatangkan kepadanya, namun semua
dapat dipenuhinya. Ibrahim diberi putra (Ismail) setelah usia 80 tahun, kemudia
diberi anak kedua (Ishak) setelah usia hampr 100 tahun. Ibrahim pernah dibakar,
ketika JIbril datang, bersedia memberinya pertolongan kalau diminta. Dengan
tegas dia menjawab “dari engkau saya tidak membutuhkan pertolongan”. Setelah
dia tua datang mimpi menyuruh menyembelih anaknya. Dia pun bersedia
melaksanakan perintah yang datang dalam mimpi itu. Setelah disempurnakannya
segala cara ujian, barulah datang pertolongan Allah: “Aku hendak menjadikan engkau imam bagi manusia”. Tegasnya terlepas dahulu dari berbagai
ujian, baru berhak diangkat menjadi imam
.Kemudian Ibrahim bermohon kepada
Allah, dia berkata “dan dari antara
anak-anak cucuku supaya diberi pula jabatan dari Imam
” lalu dengan tegas
Tuhan menjawab: “Orang-orang yang aniaya
tidaklah masuk dalam janji-Ku
”.

Demikianlah
Rasul dan Nabi telah datang silih berganti. Tidaklah seorang Rasul atau Nabi
diutus tanpa mendapat kesulitan dan penderitaan, yang satu mengatasi yang lain.
Ada yang dibunuh dengan kejam, dipenggal lehernya seperti nabi Yahya, atau
digergaji ubun-ubunnya, sampai terbelah kepalanya seperti Nabi Zakaria. Nabi
Musa terpaksa lari dari Mesir ke negeri Madyan dan lebih dari sepuluh tahun
bermukim disana, Nabi Yusuf menderita dalam penjara hamper Sembilan tahun,
meski penderitaan yang beliau hadapi sangat berat, tidaklah beliau pernah
mengeluh.

Bermacam-macam
cobaan yang beliau derita, sejak masa muda dimasukkan oleh saudara-saudaranya
kedalam sumur, terjual menjadi budak kepada Raja Muda Negeri Mesir, digoda oleh
istri Raja Muda itu, padahal dia telah diangkat menjadi anak angkat. Diancam
dengan berbagai fitnah, namun beliau lebih sudi masuk penjara dari ada
terlanjur berbuat jahat. Semua cobaan itu dapat diatasinya dengan keteguhan
hati dan kesabaran. Akhirnya dia dijemput kedalam penjara, lalu diangkat
menjadi Raja Muda, memegang kekuasaan di Negeri Mesir, terutama mengatur perekonomian
dan perbekalan makanan, karena bahaya zaman paceklik. Namun sebelum dia keluar
dari penjara, dia meminta penjelasan terlebih dahulu tentang tuduhan yang
ditimpakan kepada dirinya. Setelah perempuan-perempuan itu sendiri, terutama
istri Raja Muda yang telah pension mengakui terus terang bahwa Yusuf tidak
bersalah, melainkan dialah yang salah, dia yang mengganggu Yusuf dan Yusuf
teguh dengan imannya dan menahan hawa nafsunya.

Segala
cobaan dan ujian itu diatasinya, meskipun bagaimana sulitnya. Beliau tidak mau
mundur menghadapi kenyataan. Beliau tidak memohon biar meninggal dunia saja
daripada menanggung penderitaan yang begitu hebat. Setelah segala cobaan dapat
diatasi dan beliau telah sukses menjalankan Pemerintahan Mesir dan diri sudha
mulai tua barulah beliau menyatakan bersedia menghadapi panggilan Tuhan dan
kembali kepada-Nya dengan ridha.
Inilah yang diungkapkan dalam doa
beliau pada akhir hayatnya:

Tuhanku!
Engkau telah mengaruniakan kerajaan kepadaku, dan telah Engkau ajarkan kepadaku
menta’birkan mimpi. Engkaulah pencipta seluruh langit dan bumi, Engkaulah
pemimpinku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku di dalam Islam dan
pertemukanlah aku kelak dengan orang-orang yang saleh
” (Yusuf: 101).

Dalam artian, setelah tugas selesai, barulah beliau
bersedia menunggu kedatangan maut.

Demikian juga Nabi Ayub, yang diasingkan dri
keluarganya karena penyakit kulit sampai lebih sepuluh tahun lamanya. Demikian
juga dengan Nabi Yunus yang tidak sabar menderita penolakan dari kaumnya,
meninggalkan kewajiban dan lari ke tempat lain. Seketika dia menumpang satu
perahu hendak berlayar jauh, tiba-tiba perahu nyaris tenggelam, karena muatan
terlalu penuh. Maka terpaksa isi dikurangi agar perahu selamat. Sebagian harus
dilemparkan ke laut. Untuk memilih siapa yang dilemparkan itu dilakukan melalui
undian. Maka undian itu jatuh pada Nabi Yunus sendiri. Beliau pun dilemparkan
ke laut, sampai beliau ditelan oleh ikan Nun (paus). Untung ditelannya
langsung, tanpa dikunyahnya, sehingga beliau tidak mati. Di dalam perut ikan
itu Nabi Yunus selalu bermunajat: “Laaila
ha illaa anta subhaanaka innikuntu minadhaalimiin
” (“Tidak ada Tuhan, kecuali Engkau! Amat suci Engkau. Sungguh-sungguh aku
adalah termasuk orang yang aniaya
”).

Setelah tiga hari dalam perut ikan paus, ikan
itulah yang menggelepar di tepi pantai dan Nabi Yunus dapat menyelamatkan diri,
dan kembali ke kaumnya mengulangi tugasnya.

Begitu banyaknya cerita nabi-nabi diterangkan
di dalam Al Quran. Bahwa kisah Rasul-Rasul itu bukanlah semata-mata suatu
nostalgia untuk dikenang saja. Didalam surat Hud ayat 120 dengan jelas Tuhan
berfirman:

Dan
tiap-tiap Kami kisahkan kepada Engkau dari berita-berita rasul-rasul itu, ialah
untuk menetapkan hati engkau dengan dia, dan datang kepada engkau dari
kisah-kisah ini kebenaran dan pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang
beriman
” (Hud:120).

Sebab itu segala kisah rsul-rasul di dalam Al
Quran itu bukanlah semata-mata dongeng untuk diulang-ulang, melainkan untuk
dihayati. Orang akan senang kalau Al Quran itu di baca, orang pun mau
mengadakan MTQ, kemudian memberikan hadiah-hadiah yang menarik bagi siapa yang
paling indah, merdu dan mempesona seni bacaannya. Namun orang banyak yang takut
kalau isi Al Quran itu diamalkan. Tak jarang terjadi orang yang mengamalkan
ajaran Al Quran itu mendapat kesusahan dan penderitaan. Sebab itu banyak orang
yang berpikir, bacalah Al Quran, tapi jangan diamalkan. Kajilah
sedalam-dalamnya, tapi jangan dijadikan cita-cita atau ideologi! Jangan
disebut-sebut itu kalau engkau ingin selamat!

Oleh karena itu perlu kita ketahui, kita hayati
apa yang diajarkan oleh Rasul-rasul itu, bukan untuk didongengkan tetapi untuk
diteladani sebagaimana Al Quran menyebutkan: “Sesungguhnya ada bagi kamu pada diri Rasulullah itu contoh teladan yang
baik
”. Didalam AL Quran juga diterangkan betapa sulitnya jalan yang
ditempuh Rasulullah dalam melakukan tugasnya. Kadang-kadang secara kasar, kejam
dan sadis orang menolak seruan kebenaran yang dia bawa, Al Quran sampai membuka
rahasia perasaan hatinya diwaktu penderitaan itu seakan-akan tidak tertahankan
lagi:

Mungkin
saja engkau hendak membunuh dirimu, atas perbuatan mereka, jika mereka tidak
mau beriman terhadap seruan yang engkau sampaikan ini, dari sebab kecewa hatimu

(Al Kahfi:6).

Nabi Muhammad bekerja, setelah beliau bekerja
terasalah bagaimana beratnya pekerjaan. Sebelum dikerjakan terasa mudah saja.
Tidak apa-apa, setelah dikerjakan barulah terasa kian lama kian berat
sampai-sampai terlintas dalam ingatan Nabi sendiri, lebih baik mati saja, habis
perkara!. Orang-orang yang tidak mengerti dan tidak mengalami apa arti
perjuangan tentu akan berdebat, betukar pikiran, bagaimana hukumnya kalau
terlintas begini tidak dilarang oleh agama? Malahan aka nada yang
terheran-heran, bagaimana Nabi Muhammad saw bisa terlintas pikiran demikian?
Dia heran, karena dia memang tidak mengalami apa yang bernama perjuangan! Oleh
karena itu mereka membuat hokum dari luar.

Tugas agama Islam ini tidaklah habis hingga ini
saja. Rasulullah meninggalkan amanat berat agar usaha besar ini diteruskan,
selalu diperbarui, sampai beliau bersabda: “Perbaruilah
terus iman kamu, yaitu dengan kalimat La ilaha illallah-Tidak ada Tuhan selain
Allah
”. Amanat itu diletakkan Rasulullah saw ke atas pundak ulama, sehingga
beliau bersabda: “ulama-ulamalah penjawab
waris dari pada nabi-nabi
”. Apabila tugas ini dapat dikerjakan dengan baik
oleh ulama-ulama, diakuilah ketinggian martabat ulama-ulama itu oleh Rasulullah
saw: “Ulama-ulama umatku sama martabatnya
dengan nabi-nabi Bani Israil
”.

Diantara kedua hadits ini ada pertalian yang
kuat. Apabila kita sambut waris nabi-nabi dengan baik dan setia, kita harus
bersedia menerima sengsara dan penderitaan yang pahit, tidak ada keraguan
didalam menegakkan kebenaran, maka martabat akan disamakan Tuhan dengan
nabi-nabi Bani Israil. Teori ini pahit, Imam Al Ghazali pernah menyatakan: “akan datang suatu masa, orang memegang teguh
agamanya, sama nasibnya dengan orang yang memegang bara panas
”.

Inilah perjuangan yang kita hadapi sebagai
seorang muslim. Oaring yang menghadapinya dan terlibat didalamnya, tidak
terlepas dari berbagai penderitaan, kesusahan, kesengsaraan bahkan kegoncangan
yang tidak berhenti-henti. Mereka pun membaca surat Yasiin, atau ayat Kursi,
atau surat Al Waqiah ketika akan tidur, membaca Basmalah, Wa’tashamtu billah
ketika akan keluar rumah. Tetapi segala macam bacaan itu tidak ada hubungan
dengan Umar, Utsman, dan Ali, Zuber dan Thalhah bin Ubaidillah, dan berpuluh
Sahabat Rasulullah saw yang lain,yang mati kena tikam, tidak ada ingatan mereka
bahwa dengan membaca ayat-ayat itu menjadi tangkal penolak mati. Malah sejak
semula telah bersedia mati, maka pejuang diberi Allah pegangan hidup yang tidak
akan dilepaskan selama-lamanya yaitu:

Maka
orang-orang yang berhijrah dan diusir dari kampung halamannya dan disakiti
mereka pada jalan-Ku, dan mereka pergi berperang dan mati terbunuh, niscaya
akan Aku hapuskan dari mereka kejahatan-kejahatan mereka dan akan Aku masukkan
mereka kedalam sorga-sorga yang mengalir didekatnya sungai-sungai, sebagai
ganjaran Allah. Dan Allah, pada-Nyalah yang sebaik-baik ganjaran”

Disinilah terdapat perbedaan yang nyata
diantara pejuang-pejuang yang mengikuti sunnah Nabi dan perjalanan hidup sahabat-sahabat
Nabi, yang berani menghadapi maut demi menegakkan iman dan cita-cita dengan orang
yang tidak mengenal arti perjuangan, lalu duduk tafakur dan termenung
disudut-sudut mesjid atau surau, sambil membaca Surat Yasiin untuk mengharap
masuk sorga.

Jadi wahai sahabatku… apapun kegoncangan yang
kita alami dalam hidup ini, baik berupa penderitaan batin, kesusahan dan
kepahitan hidup itu juga termasuk perjuangan, juga termasuk ujian.
Mudah-mudahan kita termasuk orang yang bersyukur dan bersabar. Jika datang
ujian berupa kegoncangan, kesusahan, dan penderitaan jangan terlalu cepat untuk
berputus asa, boleh jadi Allah memberikan goncangan tersebut untuk menguji
kita. Mari kita mendekatkan diri kepada Allah. Satu langkah kita mendekati-Nya,
seribu langkah Dia mendekati kita.

Ya Allah Jadikanlah kami menjadi orang yang bersyukur
kepada-Mu, Jadikanlah kami orang yang sabar, dan masukkanlah kami kedalam
golongan hamba-hambamu yang Salih….. Amin

Semoga
bermanfaat…

Dermaga Kehidupan

July 28th, 2008 by febri-msy

Hidup tak ubah seperti kapal yang sedang berlayar menuju pulau impian, dalam pelayarannya dermaga-dermaga tentu menjadi tempat persinggahan. Berlayar, berlabuh dan berlayar kembali. Berbagai teknik yang dilakukan oleh sang nakhoda untuk menepi dan berlabuh, sekuat kemampuanpun akan dikerahkan guna untuk mengambil bekal berupa energy motivasi untuk berlayar kembali. Dalam usaha merapat dan melabuhkan diri ke pantai energy motivasi, adakalanya terdampar ketepi semata-mata karena belas kasihan ombak, adakalanya terdampar ke tepi karena perjuangan dengan badai yang melelahkan, adakalanya terdampar ke tepi tanpa perjuangan yang berarti, dan adakalanya tak bisa menepi karena kehabisan energi melawan badai dan ombakpun menerjang menjauhi pantai harapan. Ya itulah hidup berlabuh menepi dan berlayar. Berlabuh dan berlayar bukan kehendak kapal tetapi kehendak sang nakhoda. Tempat berlabuh atau dermaga adalah titik-titik kisar dalam “pelayaran” hidup sang nakhoda.

Dermaga pertama sebagai titik tolak pelayaran. Dermaga ini tak pernah menolak berlabuhnya sang kapal kapanpun dermaga ini rela dan suka cita menyambut kedatangan kapal pujaannya. Semua yang ia miliki rela diberikannya kepada nakhoda kapal sebagai bekal dalam berlayar menuju pulau impian. Namun kadangkala dermaga pertama tak sempat bertahan karena digilas abrasi pantai kehidupan dan tenggelam dalam perut bumi, namun ia selalu berharap dan berharap menunggu dengan sukacita kedatangan kapal yang berlayar dari pulau impian.

Dermaga kedua adalah dermaga pulau impian, berbeda dengan dermaga yang pertama, dermaga ini seperti pulau yang terapung, dermaga yang penuh dengan kedamaian dan kesejukan setiap mata yang memandang apalagi sang nakhoda yang telah menemukan dan berlabuh. Sebagian besar kapal yang berlayar memiliki satu dermaga pulau impian. Dermaga ini juga layaknya sebuah kapal sebagai penyempurna kapal yang berlabuh. Kapal yang datang berlabuh dengan penuh kedamaian dan cinta kasih, sementara dermaga pulau impian ini menyatu dengan sang kapal, setelah keduanya menyatu sulit membedakan mana yang kapal dan mana yang dermaga, karena keduanya saling mengisi…kekurangan yang tedapat pada kapal ditutupi oleh dermaga, dan begitu juga sebaliknya kekurangan pada dermaga ditutupi oleh sang kapal. Berbeda dengan dermaga yang pertama, dermaga kedua akan ikut kemanapun kapal berlayar. Dengan demikian setelah sang nakhoda menemukan dan menentukan dermaga pujaannya, pelayaran bukan berhenti sampai disini, tetapi terus dilanjutkan mengarungi samudra kehidupan yang lebih luas dan tak bertepi. Sekalipun ombak dan badai kehidupan mnerjang silih berganti dengan berbagai jenis dan rupa sang nakhoda akan tetap tenang dan damai karena dermaga yang penuh kedamaian dan cinta kasih selalu bersamanya.

Semua manusia tanpa terkecuali pelayaran kehidupannya disadari atau tidak adalah menuju dermaga yang terakhir, tetapi sebelum berlabuh dan menepi di dermaga yang terakhir mereka beristirahat sejenak di pantai kehidupan. Ketika pelayaran sang nakhoda dengan dermaga pujaannya sampai dipantai kehidupan, disinilah saatnya perpisahan antara sang nakhoda dengan dermaga pujaan yang selama ini setia menemaninya dalam mengarungi samudra kehidupan yang penuh dengan ombak dan badai. Perpisahan yang sangat berat terasa, jika kurang iman dan kurang berserah diri kepada Sang Pemilik Kehidupan, mereka akan larut dalam kesedihan yang berkepanjangan. Inilah pantai kehidupan saatnya manusia berpisah dengan samudra, beristirahat sejenak menjelang gerbang dermaga ketiga dibukakan oleh Pemiliknya. Setelah seluruh pelayaran manusia dalam samudra kehidupan ini berakhir, barulah dibukakan gerbang dermaga yang ketiga. Setelah memasuki dermaga yang ketiga ini, saatnya manusia kekal dalam kehidupan. Cuma yang perlu diketahui dermaga ketiga ini terdiri dari dua pelabuhan yaitu sorga dan neraka. Bagi mereka yang beruntung masuklah mereka ke gerbang kehidupan yang sangat sempurna, disana tak ada lagi ombak dan badai, disanalah puncak kebahagiaan, puncak kenikmatan, pokoknya kebahagiaan disana tak bisa diungkapkan dengan kata-kata….sedangkan bagi mereka yang bergelimang dosa karena rayuan-rayuan dunia yang menjanjikan kebahagiaan semu…mereka dipaksa masuk melalui gerbang Neraka, disinilah mereka mengalami siksa yang tak ada tara…siksa yang sebenarnya.. Kethauilah wahai sahabat akankah kebahagiaan dan kesenangan yang menipu di dunia ini akan melalaikan kita untuk meraih kebahagiaan yang hakiki?

Sebagai penutup dalam artikel ini, dermaga pertama adalah orang tua, dermaga kedua adalah teman hidup kita, pantai kehidupan adalah kubur, dan dermaga ketiga adalah negeri akhirat. Semoga artikel ini memberi manfaat.

Laki-Laki Salih Kekasih Wanita Salihah

July 22nd, 2008 by febri-msy

Baqir6

Cinta kasih antara manusia yang yang berbeda
jenis adalah salah satu ayat di antara ayat-ayat kekuasaan Allah. Cinta kasih
ada semenjak manusia pertama diciptakan dengan pasangannya. Dan seiring dengan
pertambahan jumlah anak manusia, cinta kasih mengikutinya, melekat erat dalam
relung jiwa makhluk termulia ini.

Cinta kasih melahirkan rasa ingin memiliki pasangan
yang dikasihinya. Dalam tradisi manusia, seorang pria ingin menikahi wanita
yang dikasihinya, atau sebaliknya wanita yang dikasihi ingin dinikahi oleh pria
pujaannya. Sedemikian dahsyat kekuatan yang ada dalam cinta, hingga aral
melintang yang menghadang akan diterjangnya.

Allah menciptakan manusia berpasang-pasangan.
Pasangan yang satu menjadi kekasih pasangannya. Allah menjodohkan orang-orang
musyrik laki-laki untuk orang-orang musyrik perempuan. Allah menciptakan wanita
jahat untuk lelaki jahat pula. Allah menjodohkan mukminin untuk dijodohkan
dengan mukminat dan Allah menciptakan wanita-wanita salihah sebagai jodoh para
lelaki salih.

Dan
janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik sebelum mereka beriman.
Sesungguhnya wanita budak yang mukminah lebih baik dari pada wanita musyrik
walau dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik
(dengan wanita-wanita mukminah) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang
mukmin lebih baik dari pada orang musyrik walaupun dia menarik hatimu”

(Al-Baqarah:221).

Lelaki mukmin tidak patut berjodoh dengan
wanita musyrik. Mukminah yang cantik menarik masih banyak, yang menawan hati
tak terhitung. Kurang apa Allah menyiapkan bagi kaum lelaki salih ini?

Suatu kisah sahabat Rasulullah, Martsad
al-Ghaznawi yang diutus oleh Rasulullah saw ke Mekah untuk membebaskan orang
Islam yang ditawan Quraisy.Setelah urusan selesai, ia berjumpa kembali dengan
Inaq kekasih lamanya. Inaq merayu terus agar Martsad sudi melanjutkan hubungan
percintaan dengan dirinya. Namun Martsad menjelaskan bahwa dirinya sudah bukan
yang dulu lagi. Ia sudah memeluk Islam yang mengatur aturan laki-laki dan
perempuan secara terinci. Namun ia berjanji akan menyampaikannya kepada
Rasulullah tentang hal tersebut; apa boleh ia menikahi Inaq yang masih musyrik,
maka turunlah ayat Al-Baqarah 221 di atas.

Disi lain, Abdullah bin Rawahah, sahabat yang
gagah lagi pemberani, menempeleng budak perempuannya yang hitam legam, tetapi
amat salihah. Setelah menempeleng, timbul rasa sesal dalam hatinya. Ia akhirnya
tergerak untuk memerdekakan sekaligus mengawininya sebagai kafarat perbuatannya.
Niat Abdullah bin Rawahah ini di puji oleh Rasulullah saw.

Tetapi setelah rencana itu dilakukan, banyaklah
desas-desus yang menggunjing Abdullah bin Rawahah, bahwa tidaklah patut orang
sekelasnya menikahi budak hitam sementara gadis-gadis banyak yang mau dinikahi
oleh beliau. Maka turunlah ayat ini yang membenarkan sikap Abdullah bin
Rawahah.

Allah juga menegaskan, “Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki
yang keji untuk wanita yang keji pula. Sementara wanita-wanita yang baik untuk
laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang
baik pula”
(QS. An-Nur: 26).

Sangat jelas petunjuk yang dibawa ayat ini.
Tidak harus sarjana Perguruan Tinggi yang bisa memahaminya. Asal punya pikiran,
mereka yang tak ‘makan’ sekolah pun dapat mengerti maksudnya. Adalah amat
langka lelaki salih bergandeng dengan wanita keji (dan seharusnya tidak boleh
terjadi). Jika pun terjadi, maka ini suatu musibah besar karena berlawanan
dengan fitrah insane sekaligus bertentangan dengan petunjuk Allah SWT. Sebab
itu, surat an-Nur ayat 26 di atas menyapu kebohongan berita dusta yang
dialamatkan kepada Aisyah, Ummul Mukminin bahwa ia telah selingkuh dengan
Sofwan bin Mu’aththal. Ketika itu peristiwa fitnah keji telah menjadi buah
bibir kaum muslimin di Madinah. Sebulan penuh Rasulullah saw merasa bingung dan
bimbang dengan kasus yang ditujukan kepada Aisyah hingga akhirnya Allah
menurunkan ayat di atas yang menolak berita bohong itu. Sebab, lelaki salih
(Rasulullah saw) tidak mungkin bersanding dengan wanita jelek. Dengan begitu,
jelas pula bahwa Aisyah adalah wanita yang sangat salihah karena ia bersanding
dengan lelaki paling Salih.

Orang yang kotor adalah orang yang hatinya
kosong dari iman. Karena itu, hatinya dipenuhi oleh sifat dengki, dendam, benci
dan segudang penyakit hati lainnya. Tidak ada yang mengendalikan dirinya untuk
berbuat baik hingga yang keluar adalah kekotoran hati menjadi kekotoran
perbuatan.

Jika lelaki salih telah menemukan wanita
salihah sebagai pasangannya, maka bahtera rumah tangga tidak mempunyai tujuan
lain selain melaksanakan perintah Allah dan menegakkan syari’at-Nya di muka
bumi seraya menjauhi larangan Allah SWT sejauh-jauhnya. Inilah gambaran yang
dilukiskan dengan indah oleh Allah SWT:

Orang-orang
yang beriman laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong sebagian
yang lain. Mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar,
mendirikan sholat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul
Nya. Mereka itulah yang akan dikasihi oleh Allah SWT. Sesungguhnya Allah
Mahagagah lagi Maha Bijaksana
” (QS. At-Taubah:71).

Lelaki salih dan wanita salihah akan beroleh
rahmat, rasa tentram, mawaddah wa rahmah dalam arungan rumah tangganya.
Sekali-kali mereka tidak akan menerima nikmat kecuali mereka mensyukurinya dan
tidak di uji melainkan mereka bersabar menerimanya. Sungguh kehidupan yang
indah. Surga dunia mengitari hari-hari mereka seperti aroma wangi mengitari
kasturi.

Perjodohan dan kasih sayang lelaki salih –
wanita salihah tidak sebatas di dunia, tetapi akan berlanjut hingga ke surga.
Inilah cinta abadi yang sesungguhnya yaitu “cinta yang tidak dibatasi oleh
ruang dan waktu”.

Lelaki salih atau istri salihah tidak dibatasi
oleh usia. Dalam Islam jodoh tidak terikat usia. Asalkan ia salih-salihah
bolehlah berjodoh meski terpaut jauh umurnya. Seumpama Nabi dengan Khadijah
atau Nabi dengan Aisyah. Tuntunan ini menafikan anggapan bahwa jodoh yang baik
adalah sebaya usianya atau setidaknya yang berdekatan. Ini pendapat yang salah
dan merepotkan.

Demikian pula kaya miskin tidak menjadi ukuran
salih-salihah nya seseorang. Pendidikan formal sekalipun tidak mengantarkan
atau menghalangi seseorang menjadi salih-salihah atau tidak. Pendek kata,
karakter tersebut anugerah Allah SWT yang diberikan kepada hamba-hamba Nya
setelah Dia melihat mereka bermujahadah sekian waktu lamanya.

Allah sekali-kali tidak akan menyia-nyiakan
hamba-Nya yang salih. Allah akan membalasnya dengan balasan yang lebih baik
lagi dari amal-amal yang pernah dilakukannya. Kebaikan pertama dalam kehidupan
adalah bersanding dengan wanita salihah. Untuk melihat betapa bahagianya lelaki
salih yang mendapat wanita salihah, kita dengarkan sabda Rasulullah saw, “barang siapa dianugrahi oleh Allah wanita
salihah, maka berarti ia telah memegang sepatuh agama. Maka bertaqwalah kepada
Allah atas separuh yang lain”
(HR. Hakim, Thabrani, Baihaqi dari Anas).

Benar kata para ulama bahwa istri salihah
adalah syarat kebahagiaan hidup, sebab ia bisa penyejuk hati dan penentram
jiwa. Ia juga berperan sebagai pembangun umat dan bangsa. Ditangannya pula,
generasi-generasi berkualitas akan bermunculan disetiap zamannya. Rasulullah
bersabda “Tiga kebahagiaan anak Adam dan
tiga kesengsaraan anak Adam. Tiga kebahagiaan itu adalah istri yang salihah, rumah
yang asri dan kendaraan yang bonafide. Dan tiga kesengsaraan anak Adam itu
adalah istri yang buruk akhlaknya, rumah yang tidak layak dan kendaraan yang
rewel”
(HR. Ahmad dan Thabrani dari Sa’ad bin Abi Waqas).

Kehidupan yang baik tidak identik dengan
kesuksesan-kesuksesan saja. Atau kemenangan yang terus menerus tanpa kekalahan.
Atau kemuliaan yang satu dan diikuti oleh kemuliaan-kemuliaan berikutnya.
Tidak… Bahkan kehidupan yang baik terkadang berupa sesuatu yang tampak
menghinakan semisal Musa as. yang terpaksa menjadi murid Khidir.

Semoga bermanfaat…

Dongeng Anak Negeri

July 10th, 2008 by febri-msy

Ingin tau cerita dongeng "Kuantan Tempo Doelu" klik di sini:

http://bangpebri.blogspot.com

Nantikan setiap edisinya, Insya Allah akan diposting sekali dalam satu minggu…

Ketika Negara “Krisis Multidimensi” Pengelolaan Sumberdaya Air “Kita Mulai dari mana?”

July 10th, 2008 by febri-msy

Pebri Mahmud
Al-Hamidi

 

Masih segar dalam ingatan kita ketika era
reformasi dimulai dinegeri ini, tingkat inflasi yang tinggi, ekonomi negara
yang krisis, utang Negara yang banyak, sampai dengan krisis kepercayaan, krisis
moral, semua bebas menyampaikan aspirasi, bebas berbuat, bebas menebangi hutan,
bebas mencemari lingkungan, dan apa yang terjadi semuanya kebablasan dalam
mengartikan reformasi. Saat ini tidak terasa 10 tahun sudah era reformasi
digulirkan direpublik tercinta ini, namun apa yang kita lihat hukum alam
berbicara, tak satupun yang bisa menaklukkan ketentuan alam ini.

Pembangunan ala neoliberal sejak penhujung
tahun 1970 an yang diprakarsai oleh Milton Friedman dan Friedrich Hayek
berpengaruh terhadap konsepsi pembangunan termasuk di Indonesia. Namun
sayangnya pembangunan ala neoliberalis tersebut gagal meraih tujuan yang
diharapkan. Dalam arti meningkatkan harkat dan martabat manusia dalam segala
dimensi atau sebagai perluasan ruang kebebasan manusia. Sehingga menciptakan
krisis pembangunan yaitu krisis polarisasi kelas (the crisis of class polarization) dan krisis lingkungan (the ecological unsustainability)
(Bambang Winarno, KR: 2 Februari 2008).

Krisis lingkungan terjadi pada berbagai dimensi
lingkungan termasuk air. Air adalah berkah alam, namun begitu manusia campur
tangan dalam siklus air dengan pendekatan yang salah berkah itu berubah menjadi
bencana. Tidak perlu jauh-jauh mencari contohnya, banjir yang terjadi di
Jakarta dan beberapa kota besar Indonesia diyakini sebagai akibat salah urus
sumber daya air seperti penataan dan peruntukan yang tidak sesuai di daerah
aliran sungai, pemukiman di bantaran sungai, pembuangan sampah ke sungai,
menurunnya permukaan tanah dan kenaikan permukaan air laut akibat pemanasan
global

Bencana air tidak hanya banjir, musim kemarau
sering kali diikuti dengan mengeringnya sumber-sumber air. Bahkan di beberapa
tempat tidak harus menunggu musim kemarau, tiap hari saja banyak penduduk harus
mengantri untuk mendapatkan atau membeli air. Menurut data Perserikatan
Bangsa-bangsa (PBB), diperkirakan 1,1 miliar warga dunia kekurangan akses air
minum, 2,5 miliar penduduk tidak memiliki sanitasi yang baik, dan lebih dari 5
juta orang pertahun meninggal karena penyakit yang berhubungan dengan air.
Jumlah kematian itu sama dengan sepuluh kali kematian akibat peperangan.

Ditengah-tengah kompleksitas permasalahan saat
ini, untuk memulihkan kembali keseimbangan sumberdaya air darimanakah kita
memulai. Salah satu langkah yang dapat diambil adalah dengan menerapkan
pengelolaan sumberdaya air terpadu (Integrated
water resources
management, IWRM).
Pengelolaan Sumberdaya Air merupakan suatu proses koordinasi dalam pengembangan
dan pengelolaan sumberdaya air dan lahan serta sumberdaya lainnya dalam suatu
wilayah sungai, untuk mendapatkan manfaat ekonomi dan kesejahteraan sosial yang
seimbang tanpa meninggalkan keberlanjutan ekosistem. Pengelolaan sumberdaya air
terpadu memfokuskan pada pengelolaan terpadu antara kepentingan bagian hulu dan
kepentingan bagian hilir sungai, pengelolaan terpadu antara kuantitas dan
kualitas air, antara air tanah dan air permukaan, serta antara sumberdaya lahan
dan sumberdaya air.

Konsep IWRM ini diharapkan dapat mengatasi
masalah kelangkaan air, banjir, polusi hingga distribusi air yang
berkeadilan.Perjalanan konsep IWRM ini sudah sangat panjang, di Indonesia juga
dikenal slogan, One River-One Plan-One Management. Namun hingga saat ini
koordinasi antar sektor yang menguasai empat hal yang perlu diterpadukan
tersebut di atas, belum dapat berjalan dengan baik. Penebangan hutan terus
berlanjut hingga mengakibatkan bencana banjir serta sedimentasi waduk dan muara
sungai, pengambilan air tanah (blue water) yang lebih sulit diperbaharui
terus berlangsung tanpa memperhatikan kemungkinan penurunan muka tanah dan
intrusi air asin, penggalian pasir tidak terkendali, sehingga mengakibatkan
terjadinya degradasi dasar sungai yang membahayakan beberapa infrastruktur
lainnya. Upaya untuk koordinasi pengelolaan sumberdaya air pernah dilakukan
oleh pemerintah pada kesempatan memperingati Hari Air Sedunia XII tahun 2004
pada tanggal 23 April 2004. Pada saat itu dicanangkan komitmen pemerintah dalam
pengelolaan Sumber Daya Air dengan penandatanganan Deklarasi Nasional Pengelolaan Air yang Efektif dalam Penanggulangan
Bencana oleh 11 Menteri dalam koordinasi Kementerian Koordinator Bidang
Kesejahteraan Rakyat yang terdiri dari Menko Kesra, Menteri Dalam Negeri,
Menteri Pertanian, Menteri Pendidikan Nasional, Menteri Kesehatan, Menteri
Energi dan Sumber Daya Mineral, Menteri Pekerjaan Umum, Menteri Kehutanan,
Menteri Sosial, Menteri Negara Riset dan Teknologi, serta Menteri Negara
PPN/Kepala Bappenas dan Menteri Negara Lingkungan Hidup.Lagi-lagi, mengingat
kondisi Sumberdaya Air di Indonesia sudah mencapai tingkat krisis yang langsung
mempengaruhi: kemiskinan, kekurangan pangan; menghambat pertumbuhan ekonomi
sosial budaya bangsa dan terganggunya ekosistem, maka Presiden Susilo Bambang
Yudoyono di Jakarta pada tanggal 28 April 2005 mencanangkan Gerakan Nasional
Kemitraan Penyelematan Air (GN-KPA) guna peningkatan keterpaduan implementasi kebijakan
pengelolaan untuk keberlanjutan fungsi sumberdaya air.

GN-KPA pada intinya memuat 6 komponen
strategis, yakni (1) Penataan Ruang, pembangunan fisik, pertanahan dan
kependudukan; (2) Rehabilitasi hutan dan lahan serta Koservasi sumber daya air;
(3) Pengendalian daya rusak air; (4) Pengelolaan kualitas dan pengendalian
pencemaran air; (5) Penghematan penggunaan dan pengelolaan permintaan air; dan
(6) Pendayagunaan sumber daya air secara adil, efisien dan berkelanjutan.
Dengan telah dicanangkannya GN-KPA, diharapkan urusan air adalah urusan semua
pemegang kepentingan baik masyarakat, pengguna air lainnya dan
pemerintah. Pada bulan Maret 2006, Bank Pembangunan Asia (ADB) mengenalkan Water
Financing Program
2006 – 2010, untuk membantu memperkenalkan program IWRM
di 25 wilayah sungai di Asia – Pasifik, termasuk 5 wilayah sungai di Indonesia,
diantaranya Wilayah Sungai Citarum, Ciliwung-Cisadane, Ciujung, Progo-Opak-Oya.
ADB mempunyai 25 elemen sebagai indikator kondisi IWRM di sebuah Wilayah
sungai, antara lain keberadaan: Organisasi Pengelola Wilayah Sungai (RBO),
partisipasi para pemegang kepentingan, perencanaan wilayah sungai, kesadaran
publik, alokasi air, hak atas air, ijin pembuangan limbah, pembiayaan IWRM,
nilai/harga air, peraturan pengelolaan air, infrastruktur yang mempunyai
multi-manfaat, partisipasi sektor swasta lewat CSR (corporate social
responsibility
), pendidikan tentang pengelolaan wilayah sungai, pengelolaan
daerah tangkapan air, kebijakan tentang aliran penyangga kualitas lingkungan, manajemen
bencana, peramalan banjir, rehabilitasi kerusakan akibat banjir, monitoring
kualitas air, upaya perbaikan kualitas air, konservasi lahan basah (rawa),
perlindungan dan peningkatan ikan di sungai, pengelolaan air tanah, konservasi
air dan sistem informasi guna mendukung penentuan kebijakan.

(Dikutip dari berbagai sumber).

“Rona-Rona Cinta”

July 9th, 2008 by febri-msy

Oleh: Pebri Mahmud Al-Hamidi ( pebri_kuansing@yahoo.co.id ) 

Orang bilang cinta adalah sebuah kata yang
indah, mempesona, dan menawan hati setiap jiwa yang menyelaminya. Inilah
pengertian cinta yang telah disempitkan maknanya. Hanya dipahami sebatas pada
hubungan antara dua sejoli pria dan
wanita. Namun, tidak demikian sejatinya. Kata cinta memiliki cakupan yang luas.
Tidak sesempit apa yang dibayangkan oleh orang yang tertawan hatinya.

Cinta…takkan habis dibahas, tak kan pernah
tertelan zaman, tak lapuk dimakan musim, biar kemarau dating, biar hujan
melanda, makna cinta tetap terukir nyata. Walaupun tak bisa di urai maknanya.

Imam Al-Ghazali mengatakan “cinta itu ibarat
sebatang kayu yang baik, akarnya tetap di bumi, cabangnya di langit, dan
buahnya lahir batin, lidah dan anggota-anggota badan”. Dalam artian bahwa
pengaruh-pengaruh yang muncul dari cinta itu dalam hati dan anggota badan,
seperti ditunjukkannya asap dalam api dan ditunjukkannya buah dan pohon. Lebih
lanjut Imam Al-Ghazali mengatakan “cinta adalah kecenderungan watak pada
sesuatu karena sesuatu tersebut terasa nikmat baginya, sedangkan benci adalah
menjauhnya perasaan dari suatu hal karena ia tidak cocok dengan hal tersebut,
semakin bertambah kenikmatan yang dirasakan, maka rasa cinta akan semakin
mendalam. Kenikmatan telinga terletak pada pendengarannya, kenikmatan mata
terletak pada penglihatannya, kenikmatan alat pencium terletak pada terciumnya
bau yang baik. Demikian pula halnya dengan seluruh panca indra lainnya, jika
merasakan kenikmatan yang sesuai dengannya, maka ia pun akan mencintainya.

Cinta adalah karunia Sang Pencipta, sebagai
pancaran sifat Nya Yang Maha Mencintai. Perlu usaha menempatkannya pada tempat,
waktu dan sisi yang tepat. Setiap insan terlahir karena cinta, tumbuh dari
kecil sampai dewasa juga karena cinta, dan tujuan hidupnya pun mencari cinta.
Sangat banyak sekali persepsi orang tentang cinta, dalam http://yudihendra.blogspot.com dia
mengatakan bahwa: Cinta seperti
matahari, ia tetap bercahaya. Walau malam menjelma, cahayanya pada bulan tetap
menerangi terkadang ia juga gerhana tetapi akan kembali jua kecerahannya.
Cinta adalah santapan jiwa. Jiwa tanpa cinta bagai rumah yang kosong. Cinta
tanpa menjiwai bagai layang-layang putus tali. Cinta adalah buta cinta tidak
mengenal usia, paras rupa, maupun kekayaan dan harta karun, tetapi dari
keikhlasan dari hati setiap insan antara satu sama lain. Tidak semua orang yang
engkau cintai, mencintaimu dan sikap ramahmu kadang kala dibalas dengan sikap
tidak sopan. Jika cinta suci tidak datang daripada tabiatnya, maka tidak ada
gunanya cinta yang dibuat-buat.
Sayang tidak bermaksud cinta. Suka tidak serasi dengan cinta. Kagum tidak berarti
cinta. Bangga tidak semestinya cinta. Cinta adalah CINTA. Cinta itu seperti
sinar matahari, memberi TANPA mengharap kembali. Cinta itu seperti sinar
matahari, TIDAK MEMILIH siapa yang ia sinari. Cinta itu seperti sinar matahari
yang MEMBERI KEHANGATAN DI HATI..(dikutip dari http://yudihendra.blogspot.com ).
Cinta yang digambarkan ini masih termasuk dalam kategori cinta dalam pengertian
yang sempit, bisa jadi penulisnya seeorang remaja yang sedang di mabuk cinta.

“Cinta
seperti sinar matahari, memberi tanpa mengharap kembali” inilah cinta yang
bertepuk sebelah tangan “saya tidak setuju”, bisa jadi pendapat ini karena dia
sedang putus cinta atau broken heart.
Dalam diskusi kecil dengan teman-teman Mahasiswa asal Kuantan Singingi beberapa
waktu yang lalu di lesehan Pakualaman, saya dikejutkan dengan sebuah pertanyaan
“bang….apakah cinta harus memiliki???” tanya mantan ketua membuka pembicaraan. “Cinta
yang mana??” saya balik bertanya “cinta dengan seseorang” lanjutnya. Ooo… dalam
hati aku berkata “kategori cinta dalam pengertian yang sempit”.

Apakah cinta harus memiliki?? Bagi saya
Jawabannya adalah “cinta pasti memiliki,
kalau bukan memiliki itu bukan berarti cinta”. Lantas “Cinta yang bagaimana
yang pasti kita miliki??”, “cinta yang getarannya berasal dari Allah Rabbul
Izzati” (sudah saya bahas dalam artikel sebelumnya). Islam mengajarkan
percintaan dan kasih sayang. Allah berfirman dalam surah Ar-Rum (30):21, yang
artinya “dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu
istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram
kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih sayang”. Mencintai karena
Allah pasti kita akan bersama dengan apa yang kita cintai itu, sebagaimana
Sabda Rasulullah: orang-orang yang beriman akan bersama dengan orang yang ia
cintai.

Apabila dua insan saling mencintai, ada yang
sayang menyayang karena Allah, ada yang sayang menyayang karena syahwat, dan
ada yang sayang menyayang karena syaitan dan syahwat (lihat artikel sebelumnya
“getaran cinta”). Manakala mencintai karena Allah akan berakhir dengan kasih
sayang yang abadi, yaitu kasih sayang yang tidak lagi dibatasi oleh ruang dan
waktu, apabila mencintai karena syahwat akan berakhir dengan kehinaan, dan yang
lebih berbahaya mencintai karena hasutan syaitan akan berakhir dengan
kesengsaraan yang kekal.

Sayang menyayang karena Allah, mencintai sesama
makhluk karena Allah adalah lebih selamat. Ia tidak melukakan hati, tidak
meresahkan jiwa, tidak merusakkan akhlak, tidak perlu risau tentang prustasi, dan
tidak perlu melayani perasaan cemburu. Namun “bagaimanakah kita tau bahwa kita
mencintai karena Allah”, yang tau hanya kita sendiri dan Allah, orang lain
tidak akan tau, akan tetapi orang lain hanya bisa mengira-ngira dengan melihat ciri-cirinya
saja (salah satunya: jika yang dia cintai dipanggil oleh Allah, atau “berpisah
dengannya” dia tidak akan frustasi dan sakit hati), namun tidak semua orang
yang dapat merasakan cinta karena Allah itu, hanya orang-orang yang selalu
menyucikan hati lah yang akan mampu menggapainya…oleh karena itu mari kita
sucikan hati, sucikan jiwa, karena hati adalah cahaya Ilahi….jagalah hati
jangan kau nodai…jagalah hati…cahaya ilahi..

Imam Al-Ghazali menjelaskan, kecintaan
seseorang yang hakiki kepada insan lain karena Allah bukanlah bermaksud mencintai
insan itu karena sifatnya, akan tetapi karena insan itu dapat mendekatkan diri
dengan akhirat. Menurut beliau lagi, bahwa seorang lelaki menikahi seorang
wanita soleha supaya terpelihara dari gangguan syaitan, supaya terjaga
agamanya, supaya memperoleh anak-anak yang soleh dari wanita itu dan seterusnya
anak-anak itu mendoakan untuknya. Lalu apabila lelaki berkenan mencintai wanita
itu karena sebab-sebab diatas, maka dia tergolong sebagai salah seorang pecinta
karena Allah. Perkara ini di nukil oleh Imam Al-Ghazali lebih kurang lebih 1000
tahun yang lalu. Apabila mencari cinta, carilah cinta yang wujud karena Allah.
Apabila menemui cinta, tanya diri sendiri “kenapa mencintainya??” Jika anda tau
itu datangnya dari Allah…anda pasti akan memiliki…Wallahu a‘lam bisshawab.

Banyak orang tau dengan Taj Mahal di India,
yaitu bangunan arsitektur Islam terindah di dunia, selepas dibangun pada tahun
1631, Raja Mongol India, Shah Jihan melakukan perjalanan ke selatan dengan
ditemani sang istrinya tercinta Mumtaz Mahal, namun istrinya itu meninggal di
Burhanpur. Saat itu, Mumtaz Mahal baru berusia 39 tahun dan telah melahirkan
empat belas anak. Setelah itu, selama dua tahun Shah Jihan mengurung diri di
Istananya dan tidak mengadaan perayaan apapun. Untuk mengenang istrinya yang
sangat dicintainya itu, makam Mumtaz Mahal dibangun dalam sebuah istana yang
indah, di Kota Agra, di Utara Uttar Pradesh, di tepi Sungai Yamuna. Pembangunan
Istana dimulai tahun 1633 dengan pekerja 20.000 orang dan masa pembangunan 17
tahun. Para ahli arsitektur, kaligrafi, dan pengrajin batu didatangkan dari
berbagai negeri, termasuk arsitek Persia bernama Isa Isfahani..

Sebegitu besarnya kah kekuatan cinta? Sehingga
Cinta Shah Jihan kepada Mumtaz Mahal terabadi bersama berdiri megahnya Taj
Mahal, sebuah makam termegah di dunia. Cinta Shah Jihan kepada istrinya adalah
“cinta seorang mahluk kepada mahluk”…tak lebih. Cinta yang tertuang….cinta yang
tak ingin terbuang…

Ketahuilah saudara-saudaraku Cinta Sejati
hanyalah pada Rabbul Izzati. Itulah cinta yang takkan bertepuk sebelah tangan.
“Ledakan dahsyat” cinta dalam diri hanya layak pada Sang Rahman, Sang
Penggenggam Jiwa, Sang Pemilik Arsy. Dalam hubungan manusia sesam manusia,
cinta memainkan peranan yang penting…cinta seorang ibu, pengorbanan cinta
seorang ayah, cinta sehati terhadap sahabat, dan cinta terhadap lawan jenis.
Tidak mudah menggantungkan cinta yang SATU kepada titik orbit yang tak mungkin
ada yang menandingi. Seringkali ternyata cinta masih tergadai kepada mahluk,
bukan pada Sang Pencipta. Masih perlu banyak belajar tentang keimanan yang
masih turun naik….

Untuk sejatinya cinta…Hasbunallahu Wani’mal
wakiil, Ni’mal mauulaa wani’mannasshir “bagi kami cukup Allah saja Pelindung,
tempat berserah diri yang baik dan penolong yang baik bagi kami”

Ya Allah…jika aku jatuh cinta, cintakanlah aku pada
seseorang yang melabuhkan cintanya kepada-Mu, agar bertambah kekuatanku untuk
mencintai-Mu….

Ya Muhaimin….Engkaulah Sang Pemilik Cinta…jika aku
jatuh cinta, jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu..

Ya Rahman….jika aku jatuh hati, izinkanlah aku
menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu, agar aku tidak terjatuh
dalam jurang cinta semu…

Ya Rabbana…jika aku jatuh hati, jagalah hatiku
padanya agar aku tidak berpaling dari hatimu…

Ya Rabbul Izzati…jika aku rindu, rindukanlah aku
pada seseorang yang merindukan syahid di jalan-Mu….

Ya Rahiim…jika aku rindu, jagalah rinduku padanya
agar tidak lalai aku merindukan syurga-Mu…

Ya Allah…jika aku menimati cinta dari ciptaan-Mu,
janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga
malam terakhir-Mu….

Ya Allah…jika aku jatuh hati kepada kekasih-Mu,
jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru
manusia kepada-Mu…

Ya Allah…jika Kau halalkan aku merindui ciptaan-Mu,
jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan
rindu abadi hanya kepada-Mu…

Ya Allah…Engkau telah memberiku pakaian cinta yang
selamanya tiada luntur dan usang…jadikanlah cintaku kepada-Mu sebagai getaran
jiwa bagiku untuk mencintai ciptaan-Mu.

Wahai Dzat Yang Maha Belas Kasihan…kasihanilah
aku…janganlah Engkau patahkan hati yang senantiasa menyebut asma-Mu, janganlah Engkau kecewakan jiwa yang
senantiasa mengharap ridho-Mu.

Ya Allah…Jika Engkau perkenankan aku berbahagia
bersamanya, jagalah kebahagiaan itu jangan sampai aku terlena dengan
kebahagiaan yang hakiki dan tertinggi saat berjumpa dengan-Mu…

Yogyakarta, 10 Juli 2008

Getaran Cinta

July 5th, 2008 by febri-msy

Assalamualaikum warahmatullahiwabarakatuh.

Bagi anda yang sedang mengalami jatuh cinta, ataupun telah jatuh cinta…perlu anda ketahui sumber getaran cinta yang lahir di dalam jiwa…adapun getaran cinta itu bersumber dari tiga perkara:

1. Berasal dari Sang Pencipta.

Inilah getaran cinta yang tertinggi…cinta yang terlahir dari sumber kebahagiaan itu sendiri…cinta ini tidak dibatasi oleh ruang dan waktu…ketika kita bersama dengan orang yang dicintai dengan getaran cinta ilahi ini…tidak akan pernah cenderung kepada perbuatan dosa, yang ada hanyalah Watawa saubil Haqqi Watawa Saubil Marhamah…Cinta ini sangat sulit untuk menggapainya..kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh…dalam menggapai cinta ini bukanlah jalan yang mudah tetapi penuh dengan ranjau berupa onak dan duri…kesabaran akan dipertanyakan, karena makhluk2 yang cenderung kepada perbuatan dosa sudah PASTI akan menghalangi…jika hanya salah satu yang memiliki iman yang kuat…sulit untuk digapai kecuali Yang Maha Kuasa Menghendaki..

2. Getaran Cinta yang Berasal dari Hawa Nafsu

Hawa nafsu cenderung kepada perbuatan dosa dan maksiat…jika kontrol iman seseorang terlalu lemah, maka dia akan selalu jatuh cinta ketika kenal atau bertemu dengan laki-laki tampan atau wanita  cantik. Hati-hati dengan getaran cinta ini…bukan cenderung kepada kebaikan, tetapi akan menjerumuskan kelembah kenistaan…yang berakhir dengan penyesalan yang tak terkira.

3. Getaran Cinta yang berasal dari Syaitan

Ini adalah sumber getaran cinta yang paling berbahaya…bukannya kebahagiaan yang akan didapatkan…tetapi kesengsaraan yang tak terperi…memang awalnya terbayang hal-hal yang manis-manis…seakan-akan semuanya sudah ada di tangan…namun ketahui lah…akibat dari getaran cinta ini bahkan akan membuat seseorang terpuruk dalam lembah dosa dan maksiat…

Berhati-hatilah….Ingat Cinta Berasal dari Sang Pencipta…hanya akan dapat dirasakan oleh orang-orang yang berhati bersih…

SELAMAT MENGIDENTIFIKASI GETARAN CINTA ANDA

Semoga Bermanfaat….

Wassalamualaikum…