Renungan di Malam 27 Rajab: Antara Doa & Derita
Tuesday, July 29th, 2008Sungguh
kesibukan perkuliahan dalam minggu ini cukup melelahkan, tentu bukan aku saja
yang sibuk orang lain pun sibuk dengan aktifitas kehidupannya yang tak
berujung. Ya itulah hidup disadari atau tidak bahwa manusia selalu sibuk dalam
urusan dunianya. Sedikit sekali manusia sibuk dalam urusan masa depannya
(akhirat), kesehariannya selalu diisi dengan berbagai kegiatan kedunian yang
belum tentu membuahkan kebahagiaan yang hakiki. Manusia terjerat dengan
kebahagiaan semu dikira dunia ini adalah segala-galanya ternyata bukan, dunia
hanya seperti sayap nyamuk dalam semesta kehidupan. Shalat Sunat dua rakaat
fajar jauh lebih baik dari dunia dan seisinya, begitulah kata Hadits Rasulullah.
Perkuliahan
pada 26 Rajab cukup melelahkan, dimulai pukul 07.15 pagi berakhir pada pukul
16.00 sore, siangnya istirahat sebentar hanya untuk Shalat Zuhur dan makan
siang. Sepulangnya dari kuliah, sungguh lelah rasanya ditambah lagi kegiatan
malam sebelumnya mengerjakan tugas perkuliahan yang baru selesai pukul 03.00
dinihari. Setelah Shalat Ashar aku pun tertidur pulas, terbangun setelah jam
dinding menunjukkan pukul 18.15 jelang malam, aku terbangun dan langsung
mengerjakan Shalat Magrib. Setelah Magrib tubuh ini masih terasa lelah, tetapi
sedikit sudah terasa pulih dari kelelahan, kemudian aku lanjutkan tidur kembali
sampai terbangun pukul 21.00 Wib. Langsung aku ambil handphone, tergerak hatiku
untuk menghubungi seorang sahabat lama ketika kuliah di salah satu Universitas
Negeri di daerah Tapal Kuda. Setelah sekian lama berbicara,tidak terasa jam
dinding sudah menunjukkan pukul 01.00 Wib, sungguh pembicaraan yang lama via
telepon durasi lebih kurang 4 jam. Diakhir pembicaraan aku dan dia tersentak
bahwa malam ini adalah malam 27 Rajab 1429 H bertepatan dengan 30 Juli 2008,
dimana 14 abad yang silam Rasulullah Muhammad saw. mengalami peristiwa
spiritual yang maha dahsyat yang dikenal dengan Isra’ dan Mi’raj. Banyak hal
yang aku bicarakan dengan sahabat tersebut sebagaimana yang akan aku uraikan
pada bagian berikut, lebih tepat aku beri tema pembicaraanku dengannya
“renungan dimalam 27 Rajab”.
Waktu
terus bergulir tanpa mengenal lelah, seperti hujan yang turun di pegunungan
terus melimpas sebagian ada yang masuk kedalam tanah menjadi ground water,
sebagian terjerap oleh lapisan tanah, dan sebagian lagi mengalir sebagai
runoff, dan ada juga yang menguap kembali ke atmosfir. Ya waktu tak ubahnya
seperti air ia terus mengalir ketempat yang lebih rendah dan berakhir dilaut. Bebatuan
terjal, tajam, dan liku-liku sungai akan diikutinya dan akhirnya juga sampai
pada tujuan terakhir yaitu laut dan samudra yang luas. Seperti itu juga
kehidupan pahit, getir dan manisnya hidup terus dilalui sekalipun manusia
sendiri tidak menginginkan pahit dan getirnya kehidupan, yang diinginkan hanya
manisnya saja. Namun lika-liku hidup mengikuti hukum alam: pahit, getir, dan
manis mesti dilalui tergantung bagaimana menyikapinya. Semakin banyak
kepahitan, kegoncangan, kesusahan, dan penderitaan hidup semakin dewasa
seseorang dalam menjalani kehidupan ini.
Pembicaraanku
dengan sahabatku ini dimulai dengan membahas pertanyaan Bung Hatta kepada Buya
Hamka tentang seseorang yang akan masuh sorga. Bung Hatta menanyakan pada Buya
Hamka tentang doa-doa yang memberikan banyak pengharapan kepada yang membaca,
demikian juga dengan membaca ayat-ayat Al Quran. Dengan membaca ayat kursi
sebelum tidur, kalau meninggal sesudah membaca ayat itu, akan masuk sorga
dengan tidak dihisab lagi. Kalau
baca doa ini doa itu, sekian kali pagi dan sekian kali petang, dosa kita akan
diampuni. Kata beliau lagi bahwa beliau banyak membaca uraian-uraian demikian,
sehingga mendapat kesan bahwa dengan membaca ayat anu, surat anu dan doa anu,
orang sudah terjamin masuk sorga. Almarhum Bung Hatta meminta pendapat almarhum
Buya Hamka mengenai soal-soal seperti ini. Bung Hatta ragu, bahwa hanya dengan
bacaan doa-doa saja orang dengan mudah masuk surge.
Kemudian
Buya Hamka menjawab pertanyaan Bung Hatta, bahwa dalam Al Quran disebutkan:
“Apakah kamu menyangka bahwa kamu akan masuk
ke sorga, padahal belum datang kepada kamu serupa dengan yang datang kepada
orang yang sebelum kamu; mereka ditimpa oleh kesusahan dan penderitaan dan
diguncangkan, sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang beriman yang ada
bersama beliau: “bilakah akan datang pertolongan Allah?” Ketahuilah
sesungguhnya pertolongan Allah itu sudah dekat!” (Al Baqarah: 214).
Ayat
ini telah memberikan pedoman kepada kita bahwasanya untuk mencapai sorga,
tempat yang amat bahagia dan mulia itu, hendaklah kita berani menerima
kesusahan dan penderitaan, bahkan berani diguncangkan, digempakan, sehingga
tidak ada waktu buat bersenang diam. Dalam ayat ini juga dikatakan bahwa saking
hebatnya kesusahan dan penderitaan, bahkan keguncangan, sampai orang yang
beriman bertanya bahkan Rasul sendiri, kapan pertolongan Allah akan datang? Mengapa
tidak datang juga pertolongan itu?
Yang
bertanya demikian adalah Rasul sendiri dan orang-orang yang beriman yang
mengikuti beliau. Rasul
bertanya, juga orang-orang beriman, bilakah pertolongan akan datang? Seakan-akan
mereka tidak yakin. Marilah kita lihat kehidupan rasul-rasul dan nabi-nabi itu
sendiri. Mereka menjadi pemimpin dari kamum mereka sendiri. Maka bertemulah
kita dengan kesusahan dan penderitaan Rasul-Rasul, pemimpin itu, yaitu
keguncangan yang bisa saja membuat hancur orang yang tidak kuat jiwanya. Seperti
Nabi Nuh, baik dalam Al Quran atau dalam Bibel menyatakan umur beliau sangat
panjang, yaitu 950 tahun. Siang malam, petang pagi dihabiskan untuk kepentingan
umat, tidak berhenti-hentinya beliau melakukan dakwah, namun hasil kerja keras
Sembilan abad, hanya dapat membawa sepasang-sepasang binatang dan beberapa
orang dan seorang anaknya tidak mau diajak ayahnya Nabi Nuh sendiri naik ke kapal.
Maka tenggelamlah anak kandungnya bersama orang-orang yang tenggelam.
Demikian
juga nabi Ibrahim, dengan terang-terangan Tuhan menjelaskan perjuangan hidup
nabi Ibrahim “dan ingatlah seketika diuji
Ibrahim itu dengan berbagai cara maka disempurnakannya semua itu” (Al
Baqarah: 124). Berbagai cara ujian yang didatangkan kepadanya, namun semua
dapat dipenuhinya. Ibrahim diberi putra (Ismail) setelah usia 80 tahun, kemudia
diberi anak kedua (Ishak) setelah usia hampr 100 tahun. Ibrahim pernah dibakar,
ketika JIbril datang, bersedia memberinya pertolongan kalau diminta. Dengan
tegas dia menjawab “dari engkau saya tidak membutuhkan pertolongan”. Setelah
dia tua datang mimpi menyuruh menyembelih anaknya. Dia pun bersedia
melaksanakan perintah yang datang dalam mimpi itu. Setelah disempurnakannya
segala cara ujian, barulah datang pertolongan Allah: “Aku hendak menjadikan engkau imam bagi manusia”. Tegasnya terlepas dahulu dari berbagai
ujian, baru berhak diangkat menjadi imam.Kemudian Ibrahim bermohon kepada
Allah, dia berkata “dan dari antara
anak-anak cucuku supaya diberi pula jabatan dari Imam” lalu dengan tegas
Tuhan menjawab: “Orang-orang yang aniaya
tidaklah masuk dalam janji-Ku”.
Demikianlah
Rasul dan Nabi telah datang silih berganti. Tidaklah seorang Rasul atau Nabi
diutus tanpa mendapat kesulitan dan penderitaan, yang satu mengatasi yang lain.
Ada yang dibunuh dengan kejam, dipenggal lehernya seperti nabi Yahya, atau
digergaji ubun-ubunnya, sampai terbelah kepalanya seperti Nabi Zakaria. Nabi
Musa terpaksa lari dari Mesir ke negeri Madyan dan lebih dari sepuluh tahun
bermukim disana, Nabi Yusuf menderita dalam penjara hamper Sembilan tahun,
meski penderitaan yang beliau hadapi sangat berat, tidaklah beliau pernah
mengeluh.
Bermacam-macam
cobaan yang beliau derita, sejak masa muda dimasukkan oleh saudara-saudaranya
kedalam sumur, terjual menjadi budak kepada Raja Muda Negeri Mesir, digoda oleh
istri Raja Muda itu, padahal dia telah diangkat menjadi anak angkat. Diancam
dengan berbagai fitnah, namun beliau lebih sudi masuk penjara dari ada
terlanjur berbuat jahat. Semua cobaan itu dapat diatasinya dengan keteguhan
hati dan kesabaran. Akhirnya dia dijemput kedalam penjara, lalu diangkat
menjadi Raja Muda, memegang kekuasaan di Negeri Mesir, terutama mengatur perekonomian
dan perbekalan makanan, karena bahaya zaman paceklik. Namun sebelum dia keluar
dari penjara, dia meminta penjelasan terlebih dahulu tentang tuduhan yang
ditimpakan kepada dirinya. Setelah perempuan-perempuan itu sendiri, terutama
istri Raja Muda yang telah pension mengakui terus terang bahwa Yusuf tidak
bersalah, melainkan dialah yang salah, dia yang mengganggu Yusuf dan Yusuf
teguh dengan imannya dan menahan hawa nafsunya.
Segala
cobaan dan ujian itu diatasinya, meskipun bagaimana sulitnya. Beliau tidak mau
mundur menghadapi kenyataan. Beliau tidak memohon biar meninggal dunia saja
daripada menanggung penderitaan yang begitu hebat. Setelah segala cobaan dapat
diatasi dan beliau telah sukses menjalankan Pemerintahan Mesir dan diri sudha
mulai tua barulah beliau menyatakan bersedia menghadapi panggilan Tuhan dan
kembali kepada-Nya dengan ridha. Inilah yang diungkapkan dalam doa
beliau pada akhir hayatnya:
“Tuhanku!
Engkau telah mengaruniakan kerajaan kepadaku, dan telah Engkau ajarkan kepadaku
menta’birkan mimpi. Engkaulah pencipta seluruh langit dan bumi, Engkaulah
pemimpinku di dunia dan di akhirat, wafatkanlah aku di dalam Islam dan
pertemukanlah aku kelak dengan orang-orang yang saleh” (Yusuf: 101).
Dalam artian, setelah tugas selesai, barulah beliau
bersedia menunggu kedatangan maut.
Demikian juga Nabi Ayub, yang diasingkan dri
keluarganya karena penyakit kulit sampai lebih sepuluh tahun lamanya. Demikian
juga dengan Nabi Yunus yang tidak sabar menderita penolakan dari kaumnya,
meninggalkan kewajiban dan lari ke tempat lain. Seketika dia menumpang satu
perahu hendak berlayar jauh, tiba-tiba perahu nyaris tenggelam, karena muatan
terlalu penuh. Maka terpaksa isi dikurangi agar perahu selamat. Sebagian harus
dilemparkan ke laut. Untuk memilih siapa yang dilemparkan itu dilakukan melalui
undian. Maka undian itu jatuh pada Nabi Yunus sendiri. Beliau pun dilemparkan
ke laut, sampai beliau ditelan oleh ikan Nun (paus). Untung ditelannya
langsung, tanpa dikunyahnya, sehingga beliau tidak mati. Di dalam perut ikan
itu Nabi Yunus selalu bermunajat: “Laaila
ha illaa anta subhaanaka innikuntu minadhaalimiin” (“Tidak ada Tuhan, kecuali Engkau! Amat suci Engkau. Sungguh-sungguh aku
adalah termasuk orang yang aniaya”).
Setelah tiga hari dalam perut ikan paus, ikan
itulah yang menggelepar di tepi pantai dan Nabi Yunus dapat menyelamatkan diri,
dan kembali ke kaumnya mengulangi tugasnya.
Begitu banyaknya cerita nabi-nabi diterangkan
di dalam Al Quran. Bahwa kisah Rasul-Rasul itu bukanlah semata-mata suatu
nostalgia untuk dikenang saja. Didalam surat Hud ayat 120 dengan jelas Tuhan
berfirman:
“Dan
tiap-tiap Kami kisahkan kepada Engkau dari berita-berita rasul-rasul itu, ialah
untuk menetapkan hati engkau dengan dia, dan datang kepada engkau dari
kisah-kisah ini kebenaran dan pengajaran dan peringatan bagi orang-orang yang
beriman” (Hud:120).
Sebab itu segala kisah rsul-rasul di dalam Al
Quran itu bukanlah semata-mata dongeng untuk diulang-ulang, melainkan untuk
dihayati. Orang akan senang kalau Al Quran itu di baca, orang pun mau
mengadakan MTQ, kemudian memberikan hadiah-hadiah yang menarik bagi siapa yang
paling indah, merdu dan mempesona seni bacaannya. Namun orang banyak yang takut
kalau isi Al Quran itu diamalkan. Tak jarang terjadi orang yang mengamalkan
ajaran Al Quran itu mendapat kesusahan dan penderitaan. Sebab itu banyak orang
yang berpikir, bacalah Al Quran, tapi jangan diamalkan. Kajilah
sedalam-dalamnya, tapi jangan dijadikan cita-cita atau ideologi! Jangan
disebut-sebut itu kalau engkau ingin selamat!
Oleh karena itu perlu kita ketahui, kita hayati
apa yang diajarkan oleh Rasul-rasul itu, bukan untuk didongengkan tetapi untuk
diteladani sebagaimana Al Quran menyebutkan: “Sesungguhnya ada bagi kamu pada diri Rasulullah itu contoh teladan yang
baik”. Didalam AL Quran juga diterangkan betapa sulitnya jalan yang
ditempuh Rasulullah dalam melakukan tugasnya. Kadang-kadang secara kasar, kejam
dan sadis orang menolak seruan kebenaran yang dia bawa, Al Quran sampai membuka
rahasia perasaan hatinya diwaktu penderitaan itu seakan-akan tidak tertahankan
lagi:
“Mungkin
saja engkau hendak membunuh dirimu, atas perbuatan mereka, jika mereka tidak
mau beriman terhadap seruan yang engkau sampaikan ini, dari sebab kecewa hatimu”
(Al Kahfi:6).
Nabi Muhammad bekerja, setelah beliau bekerja
terasalah bagaimana beratnya pekerjaan. Sebelum dikerjakan terasa mudah saja.
Tidak apa-apa, setelah dikerjakan barulah terasa kian lama kian berat
sampai-sampai terlintas dalam ingatan Nabi sendiri, lebih baik mati saja, habis
perkara!. Orang-orang yang tidak mengerti dan tidak mengalami apa arti
perjuangan tentu akan berdebat, betukar pikiran, bagaimana hukumnya kalau
terlintas begini tidak dilarang oleh agama? Malahan aka nada yang
terheran-heran, bagaimana Nabi Muhammad saw bisa terlintas pikiran demikian?
Dia heran, karena dia memang tidak mengalami apa yang bernama perjuangan! Oleh
karena itu mereka membuat hokum dari luar.
Tugas agama Islam ini tidaklah habis hingga ini
saja. Rasulullah meninggalkan amanat berat agar usaha besar ini diteruskan,
selalu diperbarui, sampai beliau bersabda: “Perbaruilah
terus iman kamu, yaitu dengan kalimat La ilaha illallah-Tidak ada Tuhan selain
Allah”. Amanat itu diletakkan Rasulullah saw ke atas pundak ulama, sehingga
beliau bersabda: “ulama-ulamalah penjawab
waris dari pada nabi-nabi”. Apabila tugas ini dapat dikerjakan dengan baik
oleh ulama-ulama, diakuilah ketinggian martabat ulama-ulama itu oleh Rasulullah
saw: “Ulama-ulama umatku sama martabatnya
dengan nabi-nabi Bani Israil”.
Diantara kedua hadits ini ada pertalian yang
kuat. Apabila kita sambut waris nabi-nabi dengan baik dan setia, kita harus
bersedia menerima sengsara dan penderitaan yang pahit, tidak ada keraguan
didalam menegakkan kebenaran, maka martabat akan disamakan Tuhan dengan
nabi-nabi Bani Israil. Teori ini pahit, Imam Al Ghazali pernah menyatakan: “akan datang suatu masa, orang memegang teguh
agamanya, sama nasibnya dengan orang yang memegang bara panas”.
Inilah perjuangan yang kita hadapi sebagai
seorang muslim. Oaring yang menghadapinya dan terlibat didalamnya, tidak
terlepas dari berbagai penderitaan, kesusahan, kesengsaraan bahkan kegoncangan
yang tidak berhenti-henti. Mereka pun membaca surat Yasiin, atau ayat Kursi,
atau surat Al Waqiah ketika akan tidur, membaca Basmalah, Wa’tashamtu billah
ketika akan keluar rumah. Tetapi segala macam bacaan itu tidak ada hubungan
dengan Umar, Utsman, dan Ali, Zuber dan Thalhah bin Ubaidillah, dan berpuluh
Sahabat Rasulullah saw yang lain,yang mati kena tikam, tidak ada ingatan mereka
bahwa dengan membaca ayat-ayat itu menjadi tangkal penolak mati. Malah sejak
semula telah bersedia mati, maka pejuang diberi Allah pegangan hidup yang tidak
akan dilepaskan selama-lamanya yaitu:
“Maka
orang-orang yang berhijrah dan diusir dari kampung halamannya dan disakiti
mereka pada jalan-Ku, dan mereka pergi berperang dan mati terbunuh, niscaya
akan Aku hapuskan dari mereka kejahatan-kejahatan mereka dan akan Aku masukkan
mereka kedalam sorga-sorga yang mengalir didekatnya sungai-sungai, sebagai
ganjaran Allah. Dan Allah, pada-Nyalah yang sebaik-baik ganjaran”
Disinilah terdapat perbedaan yang nyata
diantara pejuang-pejuang yang mengikuti sunnah Nabi dan perjalanan hidup sahabat-sahabat
Nabi, yang berani menghadapi maut demi menegakkan iman dan cita-cita dengan orang
yang tidak mengenal arti perjuangan, lalu duduk tafakur dan termenung
disudut-sudut mesjid atau surau, sambil membaca Surat Yasiin untuk mengharap
masuk sorga.
Jadi wahai sahabatku… apapun kegoncangan yang
kita alami dalam hidup ini, baik berupa penderitaan batin, kesusahan dan
kepahitan hidup itu juga termasuk perjuangan, juga termasuk ujian.
Mudah-mudahan kita termasuk orang yang bersyukur dan bersabar. Jika datang
ujian berupa kegoncangan, kesusahan, dan penderitaan jangan terlalu cepat untuk
berputus asa, boleh jadi Allah memberikan goncangan tersebut untuk menguji
kita. Mari kita mendekatkan diri kepada Allah. Satu langkah kita mendekati-Nya,
seribu langkah Dia mendekati kita.
Ya Allah Jadikanlah kami menjadi orang yang bersyukur
kepada-Mu, Jadikanlah kami orang yang sabar, dan masukkanlah kami kedalam
golongan hamba-hambamu yang Salih….. Amin
Semoga
bermanfaat…