Dermaga Kehidupan

Hidup tak ubah seperti kapal yang sedang berlayar menuju pulau impian, dalam pelayarannya dermaga-dermaga tentu menjadi tempat persinggahan. Berlayar, berlabuh dan berlayar kembali. Berbagai teknik yang dilakukan oleh sang nakhoda untuk menepi dan berlabuh, sekuat kemampuanpun akan dikerahkan guna untuk mengambil bekal berupa energy motivasi untuk berlayar kembali. Dalam usaha merapat dan melabuhkan diri ke pantai energy motivasi, adakalanya terdampar ketepi semata-mata karena belas kasihan ombak, adakalanya terdampar ke tepi karena perjuangan dengan badai yang melelahkan, adakalanya terdampar ke tepi tanpa perjuangan yang berarti, dan adakalanya tak bisa menepi karena kehabisan energi melawan badai dan ombakpun menerjang menjauhi pantai harapan. Ya itulah hidup berlabuh menepi dan berlayar. Berlabuh dan berlayar bukan kehendak kapal tetapi kehendak sang nakhoda. Tempat berlabuh atau dermaga adalah titik-titik kisar dalam “pelayaran” hidup sang nakhoda.

Dermaga pertama sebagai titik tolak pelayaran. Dermaga ini tak pernah menolak berlabuhnya sang kapal kapanpun dermaga ini rela dan suka cita menyambut kedatangan kapal pujaannya. Semua yang ia miliki rela diberikannya kepada nakhoda kapal sebagai bekal dalam berlayar menuju pulau impian. Namun kadangkala dermaga pertama tak sempat bertahan karena digilas abrasi pantai kehidupan dan tenggelam dalam perut bumi, namun ia selalu berharap dan berharap menunggu dengan sukacita kedatangan kapal yang berlayar dari pulau impian.

Dermaga kedua adalah dermaga pulau impian, berbeda dengan dermaga yang pertama, dermaga ini seperti pulau yang terapung, dermaga yang penuh dengan kedamaian dan kesejukan setiap mata yang memandang apalagi sang nakhoda yang telah menemukan dan berlabuh. Sebagian besar kapal yang berlayar memiliki satu dermaga pulau impian. Dermaga ini juga layaknya sebuah kapal sebagai penyempurna kapal yang berlabuh. Kapal yang datang berlabuh dengan penuh kedamaian dan cinta kasih, sementara dermaga pulau impian ini menyatu dengan sang kapal, setelah keduanya menyatu sulit membedakan mana yang kapal dan mana yang dermaga, karena keduanya saling mengisi…kekurangan yang tedapat pada kapal ditutupi oleh dermaga, dan begitu juga sebaliknya kekurangan pada dermaga ditutupi oleh sang kapal. Berbeda dengan dermaga yang pertama, dermaga kedua akan ikut kemanapun kapal berlayar. Dengan demikian setelah sang nakhoda menemukan dan menentukan dermaga pujaannya, pelayaran bukan berhenti sampai disini, tetapi terus dilanjutkan mengarungi samudra kehidupan yang lebih luas dan tak bertepi. Sekalipun ombak dan badai kehidupan mnerjang silih berganti dengan berbagai jenis dan rupa sang nakhoda akan tetap tenang dan damai karena dermaga yang penuh kedamaian dan cinta kasih selalu bersamanya.

Semua manusia tanpa terkecuali pelayaran kehidupannya disadari atau tidak adalah menuju dermaga yang terakhir, tetapi sebelum berlabuh dan menepi di dermaga yang terakhir mereka beristirahat sejenak di pantai kehidupan. Ketika pelayaran sang nakhoda dengan dermaga pujaannya sampai dipantai kehidupan, disinilah saatnya perpisahan antara sang nakhoda dengan dermaga pujaan yang selama ini setia menemaninya dalam mengarungi samudra kehidupan yang penuh dengan ombak dan badai. Perpisahan yang sangat berat terasa, jika kurang iman dan kurang berserah diri kepada Sang Pemilik Kehidupan, mereka akan larut dalam kesedihan yang berkepanjangan. Inilah pantai kehidupan saatnya manusia berpisah dengan samudra, beristirahat sejenak menjelang gerbang dermaga ketiga dibukakan oleh Pemiliknya. Setelah seluruh pelayaran manusia dalam samudra kehidupan ini berakhir, barulah dibukakan gerbang dermaga yang ketiga. Setelah memasuki dermaga yang ketiga ini, saatnya manusia kekal dalam kehidupan. Cuma yang perlu diketahui dermaga ketiga ini terdiri dari dua pelabuhan yaitu sorga dan neraka. Bagi mereka yang beruntung masuklah mereka ke gerbang kehidupan yang sangat sempurna, disana tak ada lagi ombak dan badai, disanalah puncak kebahagiaan, puncak kenikmatan, pokoknya kebahagiaan disana tak bisa diungkapkan dengan kata-kata….sedangkan bagi mereka yang bergelimang dosa karena rayuan-rayuan dunia yang menjanjikan kebahagiaan semu…mereka dipaksa masuk melalui gerbang Neraka, disinilah mereka mengalami siksa yang tak ada tara…siksa yang sebenarnya.. Kethauilah wahai sahabat akankah kebahagiaan dan kesenangan yang menipu di dunia ini akan melalaikan kita untuk meraih kebahagiaan yang hakiki?

Sebagai penutup dalam artikel ini, dermaga pertama adalah orang tua, dermaga kedua adalah teman hidup kita, pantai kehidupan adalah kubur, dan dermaga ketiga adalah negeri akhirat. Semoga artikel ini memberi manfaat.

Leave a Reply