“Rona-Rona Cinta”

Oleh: Pebri Mahmud Al-Hamidi ( pebri_kuansing@yahoo.co.id ) 

Orang bilang cinta adalah sebuah kata yang
indah, mempesona, dan menawan hati setiap jiwa yang menyelaminya. Inilah
pengertian cinta yang telah disempitkan maknanya. Hanya dipahami sebatas pada
hubungan antara dua sejoli pria dan
wanita. Namun, tidak demikian sejatinya. Kata cinta memiliki cakupan yang luas.
Tidak sesempit apa yang dibayangkan oleh orang yang tertawan hatinya.

Cinta…takkan habis dibahas, tak kan pernah
tertelan zaman, tak lapuk dimakan musim, biar kemarau dating, biar hujan
melanda, makna cinta tetap terukir nyata. Walaupun tak bisa di urai maknanya.

Imam Al-Ghazali mengatakan “cinta itu ibarat
sebatang kayu yang baik, akarnya tetap di bumi, cabangnya di langit, dan
buahnya lahir batin, lidah dan anggota-anggota badan”. Dalam artian bahwa
pengaruh-pengaruh yang muncul dari cinta itu dalam hati dan anggota badan,
seperti ditunjukkannya asap dalam api dan ditunjukkannya buah dan pohon. Lebih
lanjut Imam Al-Ghazali mengatakan “cinta adalah kecenderungan watak pada
sesuatu karena sesuatu tersebut terasa nikmat baginya, sedangkan benci adalah
menjauhnya perasaan dari suatu hal karena ia tidak cocok dengan hal tersebut,
semakin bertambah kenikmatan yang dirasakan, maka rasa cinta akan semakin
mendalam. Kenikmatan telinga terletak pada pendengarannya, kenikmatan mata
terletak pada penglihatannya, kenikmatan alat pencium terletak pada terciumnya
bau yang baik. Demikian pula halnya dengan seluruh panca indra lainnya, jika
merasakan kenikmatan yang sesuai dengannya, maka ia pun akan mencintainya.

Cinta adalah karunia Sang Pencipta, sebagai
pancaran sifat Nya Yang Maha Mencintai. Perlu usaha menempatkannya pada tempat,
waktu dan sisi yang tepat. Setiap insan terlahir karena cinta, tumbuh dari
kecil sampai dewasa juga karena cinta, dan tujuan hidupnya pun mencari cinta.
Sangat banyak sekali persepsi orang tentang cinta, dalam http://yudihendra.blogspot.com dia
mengatakan bahwa: Cinta seperti
matahari, ia tetap bercahaya. Walau malam menjelma, cahayanya pada bulan tetap
menerangi terkadang ia juga gerhana tetapi akan kembali jua kecerahannya.
Cinta adalah santapan jiwa. Jiwa tanpa cinta bagai rumah yang kosong. Cinta
tanpa menjiwai bagai layang-layang putus tali. Cinta adalah buta cinta tidak
mengenal usia, paras rupa, maupun kekayaan dan harta karun, tetapi dari
keikhlasan dari hati setiap insan antara satu sama lain. Tidak semua orang yang
engkau cintai, mencintaimu dan sikap ramahmu kadang kala dibalas dengan sikap
tidak sopan. Jika cinta suci tidak datang daripada tabiatnya, maka tidak ada
gunanya cinta yang dibuat-buat.
Sayang tidak bermaksud cinta. Suka tidak serasi dengan cinta. Kagum tidak berarti
cinta. Bangga tidak semestinya cinta. Cinta adalah CINTA. Cinta itu seperti
sinar matahari, memberi TANPA mengharap kembali. Cinta itu seperti sinar
matahari, TIDAK MEMILIH siapa yang ia sinari. Cinta itu seperti sinar matahari
yang MEMBERI KEHANGATAN DI HATI..(dikutip dari http://yudihendra.blogspot.com ).
Cinta yang digambarkan ini masih termasuk dalam kategori cinta dalam pengertian
yang sempit, bisa jadi penulisnya seeorang remaja yang sedang di mabuk cinta.

“Cinta
seperti sinar matahari, memberi tanpa mengharap kembali” inilah cinta yang
bertepuk sebelah tangan “saya tidak setuju”, bisa jadi pendapat ini karena dia
sedang putus cinta atau broken heart.
Dalam diskusi kecil dengan teman-teman Mahasiswa asal Kuantan Singingi beberapa
waktu yang lalu di lesehan Pakualaman, saya dikejutkan dengan sebuah pertanyaan
“bang….apakah cinta harus memiliki???” tanya mantan ketua membuka pembicaraan. “Cinta
yang mana??” saya balik bertanya “cinta dengan seseorang” lanjutnya. Ooo… dalam
hati aku berkata “kategori cinta dalam pengertian yang sempit”.

Apakah cinta harus memiliki?? Bagi saya
Jawabannya adalah “cinta pasti memiliki,
kalau bukan memiliki itu bukan berarti cinta”. Lantas “Cinta yang bagaimana
yang pasti kita miliki??”, “cinta yang getarannya berasal dari Allah Rabbul
Izzati” (sudah saya bahas dalam artikel sebelumnya). Islam mengajarkan
percintaan dan kasih sayang. Allah berfirman dalam surah Ar-Rum (30):21, yang
artinya “dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu
istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram
kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih sayang”. Mencintai karena
Allah pasti kita akan bersama dengan apa yang kita cintai itu, sebagaimana
Sabda Rasulullah: orang-orang yang beriman akan bersama dengan orang yang ia
cintai.

Apabila dua insan saling mencintai, ada yang
sayang menyayang karena Allah, ada yang sayang menyayang karena syahwat, dan
ada yang sayang menyayang karena syaitan dan syahwat (lihat artikel sebelumnya
“getaran cinta”). Manakala mencintai karena Allah akan berakhir dengan kasih
sayang yang abadi, yaitu kasih sayang yang tidak lagi dibatasi oleh ruang dan
waktu, apabila mencintai karena syahwat akan berakhir dengan kehinaan, dan yang
lebih berbahaya mencintai karena hasutan syaitan akan berakhir dengan
kesengsaraan yang kekal.

Sayang menyayang karena Allah, mencintai sesama
makhluk karena Allah adalah lebih selamat. Ia tidak melukakan hati, tidak
meresahkan jiwa, tidak merusakkan akhlak, tidak perlu risau tentang prustasi, dan
tidak perlu melayani perasaan cemburu. Namun “bagaimanakah kita tau bahwa kita
mencintai karena Allah”, yang tau hanya kita sendiri dan Allah, orang lain
tidak akan tau, akan tetapi orang lain hanya bisa mengira-ngira dengan melihat ciri-cirinya
saja (salah satunya: jika yang dia cintai dipanggil oleh Allah, atau “berpisah
dengannya” dia tidak akan frustasi dan sakit hati), namun tidak semua orang
yang dapat merasakan cinta karena Allah itu, hanya orang-orang yang selalu
menyucikan hati lah yang akan mampu menggapainya…oleh karena itu mari kita
sucikan hati, sucikan jiwa, karena hati adalah cahaya Ilahi….jagalah hati
jangan kau nodai…jagalah hati…cahaya ilahi..

Imam Al-Ghazali menjelaskan, kecintaan
seseorang yang hakiki kepada insan lain karena Allah bukanlah bermaksud mencintai
insan itu karena sifatnya, akan tetapi karena insan itu dapat mendekatkan diri
dengan akhirat. Menurut beliau lagi, bahwa seorang lelaki menikahi seorang
wanita soleha supaya terpelihara dari gangguan syaitan, supaya terjaga
agamanya, supaya memperoleh anak-anak yang soleh dari wanita itu dan seterusnya
anak-anak itu mendoakan untuknya. Lalu apabila lelaki berkenan mencintai wanita
itu karena sebab-sebab diatas, maka dia tergolong sebagai salah seorang pecinta
karena Allah. Perkara ini di nukil oleh Imam Al-Ghazali lebih kurang lebih 1000
tahun yang lalu. Apabila mencari cinta, carilah cinta yang wujud karena Allah.
Apabila menemui cinta, tanya diri sendiri “kenapa mencintainya??” Jika anda tau
itu datangnya dari Allah…anda pasti akan memiliki…Wallahu a‘lam bisshawab.

Banyak orang tau dengan Taj Mahal di India,
yaitu bangunan arsitektur Islam terindah di dunia, selepas dibangun pada tahun
1631, Raja Mongol India, Shah Jihan melakukan perjalanan ke selatan dengan
ditemani sang istrinya tercinta Mumtaz Mahal, namun istrinya itu meninggal di
Burhanpur. Saat itu, Mumtaz Mahal baru berusia 39 tahun dan telah melahirkan
empat belas anak. Setelah itu, selama dua tahun Shah Jihan mengurung diri di
Istananya dan tidak mengadaan perayaan apapun. Untuk mengenang istrinya yang
sangat dicintainya itu, makam Mumtaz Mahal dibangun dalam sebuah istana yang
indah, di Kota Agra, di Utara Uttar Pradesh, di tepi Sungai Yamuna. Pembangunan
Istana dimulai tahun 1633 dengan pekerja 20.000 orang dan masa pembangunan 17
tahun. Para ahli arsitektur, kaligrafi, dan pengrajin batu didatangkan dari
berbagai negeri, termasuk arsitek Persia bernama Isa Isfahani..

Sebegitu besarnya kah kekuatan cinta? Sehingga
Cinta Shah Jihan kepada Mumtaz Mahal terabadi bersama berdiri megahnya Taj
Mahal, sebuah makam termegah di dunia. Cinta Shah Jihan kepada istrinya adalah
“cinta seorang mahluk kepada mahluk”…tak lebih. Cinta yang tertuang….cinta yang
tak ingin terbuang…

Ketahuilah saudara-saudaraku Cinta Sejati
hanyalah pada Rabbul Izzati. Itulah cinta yang takkan bertepuk sebelah tangan.
“Ledakan dahsyat” cinta dalam diri hanya layak pada Sang Rahman, Sang
Penggenggam Jiwa, Sang Pemilik Arsy. Dalam hubungan manusia sesam manusia,
cinta memainkan peranan yang penting…cinta seorang ibu, pengorbanan cinta
seorang ayah, cinta sehati terhadap sahabat, dan cinta terhadap lawan jenis.
Tidak mudah menggantungkan cinta yang SATU kepada titik orbit yang tak mungkin
ada yang menandingi. Seringkali ternyata cinta masih tergadai kepada mahluk,
bukan pada Sang Pencipta. Masih perlu banyak belajar tentang keimanan yang
masih turun naik….

Untuk sejatinya cinta…Hasbunallahu Wani’mal
wakiil, Ni’mal mauulaa wani’mannasshir “bagi kami cukup Allah saja Pelindung,
tempat berserah diri yang baik dan penolong yang baik bagi kami”

Ya Allah…jika aku jatuh cinta, cintakanlah aku pada
seseorang yang melabuhkan cintanya kepada-Mu, agar bertambah kekuatanku untuk
mencintai-Mu….

Ya Muhaimin….Engkaulah Sang Pemilik Cinta…jika aku
jatuh cinta, jagalah cintaku padanya agar tidak melebihi cintaku pada-Mu..

Ya Rahman….jika aku jatuh hati, izinkanlah aku
menyentuh hati seseorang yang hatinya tertaut pada-Mu, agar aku tidak terjatuh
dalam jurang cinta semu…

Ya Rabbana…jika aku jatuh hati, jagalah hatiku
padanya agar aku tidak berpaling dari hatimu…

Ya Rabbul Izzati…jika aku rindu, rindukanlah aku
pada seseorang yang merindukan syahid di jalan-Mu….

Ya Rahiim…jika aku rindu, jagalah rinduku padanya
agar tidak lalai aku merindukan syurga-Mu…

Ya Allah…jika aku menimati cinta dari ciptaan-Mu,
janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat di sepertiga
malam terakhir-Mu….

Ya Allah…jika aku jatuh hati kepada kekasih-Mu,
jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang menyeru
manusia kepada-Mu…

Ya Allah…jika Kau halalkan aku merindui ciptaan-Mu,
jangan biarkan aku melampaui batas sehingga melupakan aku pada cinta hakiki dan
rindu abadi hanya kepada-Mu…

Ya Allah…Engkau telah memberiku pakaian cinta yang
selamanya tiada luntur dan usang…jadikanlah cintaku kepada-Mu sebagai getaran
jiwa bagiku untuk mencintai ciptaan-Mu.

Wahai Dzat Yang Maha Belas Kasihan…kasihanilah
aku…janganlah Engkau patahkan hati yang senantiasa menyebut asma-Mu, janganlah Engkau kecewakan jiwa yang
senantiasa mengharap ridho-Mu.

Ya Allah…Jika Engkau perkenankan aku berbahagia
bersamanya, jagalah kebahagiaan itu jangan sampai aku terlena dengan
kebahagiaan yang hakiki dan tertinggi saat berjumpa dengan-Mu…

Yogyakarta, 10 Juli 2008

One Response to ““Rona-Rona Cinta””

  1. yudi hendra_ Says:

    mantap bang……….

Leave a Reply